Thursday, November 12, 2009

Emak Ingin Naik Haji

Resensi versiku ini, merupakan tulisan pertamaku di sini.
Butuh celaan niy, agar dapat meningkatkan kemampuan menulis yang baik :D 

Ketika membaca judul film ini, dan melihat posternya, yang pertama terlintas dalam benakku adalah sosok perempuan tua, yang sudah lama malang melintang di jagad perfilman dan dalam kesempatan ini menjadi pemeran utama yang sangat tepat - pas - kalau diibaratkan dengan masakan itu ya MAKNYUUSSSS!!!

Seorang ATIK KANSER sangat tepat memerankan sosok seorang ibu alias emak-emak yang sudah tua karena usia (bukan polesan make up), hidup sederhana dari keahliannya membuat kue. Hidup bertetangga dengan sebuah keluarga kaya, bagaikan bumi dan langit saja kedua keluarga ini layaknya. Emak dan anaknya yang duda beranak satu, Zein, si pelukis, tinggal berdua saja menempati sebuah rumah yang reotnya hampir menyamai peotnya si Emak.


Emak yang sederhana, tutur katanya lembut dan halus, hatinya tulus dan bersih, dan yang pasti sangat beriman kepada Allah Swt. Keyakinannya itu memuluskan hari-harinya, sehingga semua terasa mudah dan tak ada beban. Sikap Emak yang selalu mensyukuri apapun yang didapat dan yang terjadi di dalam hidupnya. Kasih sayang Emak yang begitu jelas, kelembutan Emak menghadapi anak semata wayangnya membuat anak manapun takkan tega untuk menyakiti hatinya.

Hasrat yang begitu menggebu-gebu untuk bisa bertandang ke Tanah Suci, tidak membuat Emak kalap dalam mengais rejeki. Dengan penuh kesabaran Emak mengumpulkan sen demi sen hasil berjualan kue, yang dalam lima tahun baru terkumpul lima juta. Emak tetap optimis, tetap bersangka baik, bahwa andai raganya tak sampai ke Tanah Suci sekalipun, tapi hatinya sudah sampai di sana terlebih dulu.

Ka'bah terasa sudah di depan mata, bukan dalam bentuk bayang-bayang semata,  berkat lukisan Zein yang mereka sepakati untuk dijadikan hiasan di rumah mereka sendiri. Sempat aku me-reka sendiri jalan cerita film ini bahwa nantinya tetangganya yang orang kaya akan datang tanpa sengaja dan melihat lukisan itu, kemudian membelinya senilai biaya ke Tanah Suci buat Emak. Tapi aku kecele, alur ceritanya tidak seperti itu. Aditya Gumay berhasil mengecohku dan aku harus mengakui kali ini bahwa tidak semua film Indonesia itu dapat ditebak alur ceritanya dengan mudah.

Emak yang baik hati, bahkan merelakan uang tabungannya demi biaya operasi cucunya. Scene ini sungguh menjadi pelajaran bagiku, dan semoga juga buat penonton lainnya, bahwa seringkali kita merasa kita dapat mengatur segala hal di dalam hidup kita, sehingga kita lupa bahwa ketentuan Allah-lah yang sudah pasti akan terjadi dan itulah yang terbaik. Sering kita jumpai di dalam kehidupan ini, kita tak rela meminjamkan uang simpanan kita untuk biaya berobat seseorang, entah itu kerabat atau ada orang yang minta tolong, dengan pertimbangan bagaimana jika uang itu tidak kembali atau bagaimana jika kita membutuhkan uang itu beberapa waktu setelah uang diberikan kepada orang lain. Lagi-lagi kalimat bahwa  Allah sudah menentukan takaran rejeki setiap orang belum dipahami sepenuhnya dalam artian yang sebenar-benarnya. Ketakutan yang muncul di pikiran kita, seringkali tidak sebangun sejalan dengan apa yang seharusnya kita yakini.

Zein yang sempat khilaf gara-gara melihat uang sekoper di kamar Haji Sa'un - yang diperankan dengan apik oleh Didi Petet. Kekhilafan yang muncul demi membayangkan biaya operasi anaknya, juga ongkos naik haji Emak. Begitulah hati yang bersih, dalam keadaan khilaf dia dapat cepat tersadar, dan beruntung Allah masih menutup aibnya, sehingga dia selamat dan tidak tertangkap.

Ketika adegan sampai pada Zein mengisi kupon undian, aku sempat mengira bahwa film ini akan berakhir dengan berangkatnya Emak naik haji, tentunya menang dari kupon undian tadi. Sekali lagi, aku harus mengakui Aditya sudah berhasil mengecohku untuk kedua kalinya. Sehingga ketika Zein mendapat kecelakaan ditengah rasa suka citanya karena memenangkan hadiah undian berangkat Umroh, aku mendapat pelajaran bahwa dalam suka cita pun sebaiknya tidak berlebihan. Mungkin akan lain ceritanya, jika Zein diam di rumah menanti Emak pulang, lalu berbagi berita suka cita.

Tapi di sisi lain, kecelakaan yang menimpa Zein merupakan musibah besar bagi Emak, dan dibaliknya telah menanti berita suka cita lainnya. Sepertinya ketulusan hati Emak, 'dibayar' oleh Allah dengan membuat orang yang menabraknya mau bertanggung jawab menanggung semua biaya rumah sakit Zein. Padahal si penabrak sendiri harus kehilangan istrinya. Aku meyakini bahwa perbuatan baik yang kita buat, dapat juga dinikmati oleh orang-orang disekeliling kita, demikian juga sebaliknya.

Potret seorang pejabat yang memaksakan diri untuk berangkat ke Tanah Suci demi gelar HAJI, menjadi pelengkap yang pas menunjukkan wajah Indonesia masa kini. Masih untung, pejabat di film ini masih punya hati nurani, sehingga tidak melulu arogan sampai film usai.

Aku senang karena film ini berakhir dengan BAHAGIA. Emak berhasil berangkat ke Tanah Suci berkat nazar  putri sulung Haji Sa'un, bahkan kejutan lainnya datang dari Haji Sa'un yang juga mau mengongkosi Zein ke Tanah Suci menemani Emak. Alhamdulillah! Buah sabar serta istikomah pasti manis. Dan yang pasti Allah tak pernah ingkar janji pada umat-Nya, maka yang terpenting adalah PERCAYA SAJA dan tetap bersangka baik pada setiap ketentuan Allah.

Terima kasih, Aditya, semoga film-film berikutnya tambah berkualitas dan pastinya ini merupakan bukti bahwa tanpa busana yang seronok, tanpa dialog yang porno, sebuah film bisa laku laris manis :)


Pemain :
Atik Kanser
Reza Rahadian
Didi Petet
Niniek L. Karim
Ayu Pratiwi
Henidar Amroe
Ustad Jeffry Al Bukhori

Sutradara :
Aditya Gumay

Penulis : 
Adenin Adlan
Aditya Gumay              

No comments:

Post a Comment