Hitungan hari kita akan meninggalkan 2009. Dan belakangan ini rasanya kok aku semakin tak pandai mengatur waktu sehingga tak mampu menghasilkan satu tulisanpun. Sedih rasanya membiarkan blog tak terurus. Tapi begitulah hidup, kita selalu ditempatkan pada pilihan-pilihan yang selalu tak mudah untuk melakukan pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan.
Ketika ada satu isu yang begitu menggelitik untuk ditulis, tapi karena waktu yang sempit terpaksa ditunda. Setelah ditunda, eh kok udah ilang mood. Selalu saja begitu. Padahal, walaupun tulisan di blog ini seringnya berisi curhatan belaka, tapi pastinya satu hari nanti akan menjadi kenangan yang manis untuk diingat kembali.
Baiklah, selagi mood masih ada, walau tenaga tinggal sisa-sisa, kupaksa diriku untuk menulis. Di hari Natal ini, seorang sahabat merayakannya dan jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti agar datang ke rumahnya. Undangan yang tak pantas untuk diabaikan, sehingga walau lokasinya jauh untuk dijangkau, maka bersama swami dan seorang sahabat, kami tetap datang ke sana. Maka hari ini jadi hari ternorak buatku :D
Setelah sekian lama tidak pernah menjadi pengguna angkutan umum, hari ini aku harus menggunakan jasa bis kota untuk sampai di Tangerang. Temanku bilang harus naik Primajasa atau AJA dan nanti turun di Tol Bitung. Sudah memang aslinya bukan penyabar, sehingga ketika bis yang dinanti-nanti tak muncul, bawa'annya mo nyetop taxi aja. Padahal, udah sengaja bawa uang pas-pasan biar engga pengen macam-macam.
Ketika ada bis lewat tujuan Merak, segera kami stop dan naik. Baru juga duduk PW, tiba-tiba pandanganku tertuju ke tulisan yang terpampang di atas duduk pak supir. Angka yang lumayan besar dan jelas Rp 17.000,-. Tak sanggup menahan kekagetan, dengan suara tertahan spontan aku berkata : MAHAL BENERRRR???? Temanku tertawa, sambil bilang NORAK LU .... :(
Kepada swami aku berbisik:
"a, kok mahal banget yah? Hiks ... "
"Ywd, mo gimana lagi!"
Urusan ongkos ini menjadi perbincangan lagi ketika kami sudah tiba di rumah sahabat itu. Rupanya, menurut dia, kami membayar terlalu banyak. Ongkos segitu untuk tujuan Merak, jadi kalau turunnya di Bitung atau sebelum Merak ya bayarnya cukup Rp 10.000,- saja. Nah lo? Emang bisa begitu? Hla, si abang kondektur aja engga nanya-nanya mau turun di mana, lalu kita juga bayar sesuai tulisan yang tertera. Hmm ....
Ya sudahlah, ini pengalaman berharga, jadi lain kali, biar engga kaget bin norak, sebaiknya tanya-tanya dulu deh tarifnya. Hehehe ... ternyata cerita tentang h ari ini belum usai sampai di sini. Karena apa? Karena pada saat pulang, kami disarankan untuk naik bis yang memang khusus jalurnya dari Citra ke beberapa titik di Jakarta. Bagi yang mau ke Tg.Priok maka disarankan naik yang ke Mangga Dua. Namun, kami telat 1/2 jam sehingga bis yang tersedia tinggal jurusan Slipi saja, dan nanti turun di pintu tol Kebon Jeruk, baru nyambung lagi dengan bis lain ke Tg.Priok. Terpaksalah kami naik bis ini dengan membayar Rp 11.000,- saja.
Di dalam bis aku udah bilang ke swami, agar dia tidak tidur. Sementara aku terlelap dengan pulasnya dan ketika mendusin, sambil mengumpulkan nyawa aku mencoba mengamati keadaan di luar bis. Hmm ... kok ini tolnya sudah seperti yang di daerah Jakarta yah?! Apa udah kelewatan Kebon Jeruknya? Berhubung nyawa belum ngumpul, aku masih belum bereaksi apapun. Tetapi ketika ku baca tulisan RS. HARAPAN KITA, spontan ku teriak ... waduh, kita udah kelewatan dan membangunkan teman dan swami.
Xixixixi .... asli itu ketawa pait banget dah. Untungnya supirnya baek hati, jadi dikasi tau turun di mana agar mudah mendapatkan bis ke Tg.Priok. Jadilah kami diturunkan di Polda, dan alhamdulillah, baru juga nurunin itu tangga jembatan penyeberangan, bis tujuan Tg.Priok datang. Berlarian penuh suka cita, walau sudah penat sangat, bersemangat sekali naik ke dalam bis yang lengang. Duduk di bagian belakang yang kosong, dan memastikan kali ini tidak tidur lagi. Karena biasanya mereka lewat tol dan cepat sekali tiba di Priok. Daripada nanti kebawa ke terminal yang malah bikin tambah jauh, mending juga menahan kantuk sebentar kan?
Ya ya ... akhirnya kami berhasil menahan kantuk sampai bis keluar tol di Plumpang, dan dengan menyambung angkot kecil, tibalah kami di 'rumah'. Niatnya siy sampai di rumah mau tidur, kenyataannya??
Kenyataannya, sampai di rumah cuma naro barang (hasil palakan di rumah teman tadi), kami memutuskan pergi lagi untuk nonton film SANG PEMIMPI. Iri rasanya dari kemarin cuma bisa baca review dari teman-teman saja. Walau baru nonton tadi, aku tidak punya kesan sendiri terhadap film ini, sehingga tak banyak yang bisa ditulis. Jauuuuhhh banget feel-nya dibandingkan dengan LaSKAR PELANGI. Entahlah, apakah aku yang udah terlalu capek, atau memang filmnya yang rada menjemukan???
Jam sudah menunjukkan 1.34am, saatnya memejamkan mata, semoga besok bisa lebih konsisten dalam menulis. Selamat bubu semuaaa....
Friday, December 25, 2009
Friday, December 18, 2009
Dia 'gay', so what?!
Setelah melewati minggu-minggu yang melelahkan, akhirnya tadi malam, PC-PC baru itu siap dioperasikan. Bismillah ... berkatilah usaha keras kami ini ya Allah, dan Engkau maha tahu peruntukan dari semua kerja keras ini, amin! Begitulah do'a yang terus ku lafazkan ketika swami mengangguk ringan saat ku minta ijin agar boleh memulainya malam tadi. Sebenarnya sedari siang aku sudah membujuknya agar memberikan ijin, tapi swami bersikeras mau beres semua dulu baru boleh terima client. Baiklah ...
Dan menjelang Magrib kemarin, ketika aku baru kembali dari luar, baru juga menjejakkan kaki di lobi, swami sudah melambai memanggil agar mendekati dia yang duduk di meja server. Segera ku hampiri dan aku sempat Ge-eR, karena ku pikir dia mau mencium kening seperti biasa kalau lagi senang :P eh tak dinyana swami malah mo nunjukin profil billing yang baru. Profil billing yang NAKAL :D karena nge-bolehin sang operator mengintip semua kegiatan client. Jelas banget deh.
Rupanya client pertama di PC yang baru itu adalah seorang gay, yang sedang mencari 'pasangan'. Aku pun jadi penasaran seperti apa siy sosok seorang gay di daerah kami ini. Ganteng 'kah? Gemulai 'kah? Atau gimana? Berbisik ku tanya swami.
"A, ganteng ya orangnya?"
Swami menjebi sambil tersenyum.
"terus kayak apa dong orangnya? cerita atuh ... "
Pantengin aja di sini, ntar juga orangnya bayar, teteh liat aja, begitu katanya.
Baiklah, dengan ketidak sabaran ku menunggu dalam penasaran yang mendera :D Iya, penasaran seperti apa siy sosok seorang gay. Selama ini aku 'kan cuma tau dari berita belaka.
Alert berbunyi, pertanda client sudah selesai dengan aktivitasnya. Keluarlah sosok seorang pria berpostur sedang kalau tidak boleh dibilang mungil, berambut ikal, dan ku tatap wajahnya yang polos. Tersenyum manis, ku sapa dia.
"Sudah, mas?"
"Sudah, mba, berapa?"
Transaksi selesai dan dia pamit.
"Hati2 ya mas, kembali lagi besok ya..."
Aku tercenung. Ini toh sosok 'gay' itu, so what?! Campur aduk rasanya. Inilah perubahan jaman. Aku tidak berani bilang ini perubahan yang EDAN, tapi jelas-jelas ini sebuah perubahan. Dan sebagai sesama insan Illahi, dituntut tepo seliro yang tinggi menghadapi kenyataan ini. Perubahan yang membawa perbedaan, tapi bukan perbedaan yang perlu untuk dicemooh karena kita yang berbeda dari dia pun belum tentu lebih baik dalam keseharian dan dalam pola pikir.
Aku masih tergugu dengan pikiran penuh tanya, salah satunya, besok apa lagi?
Dan menjelang Magrib kemarin, ketika aku baru kembali dari luar, baru juga menjejakkan kaki di lobi, swami sudah melambai memanggil agar mendekati dia yang duduk di meja server. Segera ku hampiri dan aku sempat Ge-eR, karena ku pikir dia mau mencium kening seperti biasa kalau lagi senang :P eh tak dinyana swami malah mo nunjukin profil billing yang baru. Profil billing yang NAKAL :D karena nge-bolehin sang operator mengintip semua kegiatan client. Jelas banget deh.
Rupanya client pertama di PC yang baru itu adalah seorang gay, yang sedang mencari 'pasangan'. Aku pun jadi penasaran seperti apa siy sosok seorang gay di daerah kami ini. Ganteng 'kah? Gemulai 'kah? Atau gimana? Berbisik ku tanya swami.
"A, ganteng ya orangnya?"
Swami menjebi sambil tersenyum.
"terus kayak apa dong orangnya? cerita atuh ... "
Pantengin aja di sini, ntar juga orangnya bayar, teteh liat aja, begitu katanya.
Baiklah, dengan ketidak sabaran ku menunggu dalam penasaran yang mendera :D Iya, penasaran seperti apa siy sosok seorang gay. Selama ini aku 'kan cuma tau dari berita belaka.
Alert berbunyi, pertanda client sudah selesai dengan aktivitasnya. Keluarlah sosok seorang pria berpostur sedang kalau tidak boleh dibilang mungil, berambut ikal, dan ku tatap wajahnya yang polos. Tersenyum manis, ku sapa dia.
"Sudah, mas?"
"Sudah, mba, berapa?"
Transaksi selesai dan dia pamit.
"Hati2 ya mas, kembali lagi besok ya..."
Aku tercenung. Ini toh sosok 'gay' itu, so what?! Campur aduk rasanya. Inilah perubahan jaman. Aku tidak berani bilang ini perubahan yang EDAN, tapi jelas-jelas ini sebuah perubahan. Dan sebagai sesama insan Illahi, dituntut tepo seliro yang tinggi menghadapi kenyataan ini. Perubahan yang membawa perbedaan, tapi bukan perbedaan yang perlu untuk dicemooh karena kita yang berbeda dari dia pun belum tentu lebih baik dalam keseharian dan dalam pola pikir.
Aku masih tergugu dengan pikiran penuh tanya, salah satunya, besok apa lagi?
Wednesday, December 16, 2009
Flashdisc yang nakal
Saya sedang melakukan 'hunting job' amanat swami di KBS, tiba-tiba seorang anak laki2 berseragam abu-abu mengetuk pintu; kirain mau pake inet, ternyata dia mo nge-print. Entahlah, belakangan semangat berbaginya sedang tinggi, jadi tanpa menghitung berapa lembar yang mau di-print, saya bersemangat untuk membantunya. Padahal petugas masih pulas, dan padahal kalau mau nolongin ya terpaksa ke lantai dua yang dalam keseharian belum tentu satu kali mau naik ke atas.
Friday, December 11, 2009
Seberapa pedulikah kita?
Senang sekali mempunyai kebiasaan bangun pagi, jadi semakin kaya rasanya karena punya banyak waktu untuk memulai aktifitas tanpa dikejar-kejar rutinitas lainnya. Dan pagi ini saya jadi berkesempatan untuk mampir ke blognya mas Vavai kemudian menemukan tulisannya tentang 'minimalis' yang kemudian saya terjemahkan sebagai penghematan dalam banyak lini kehidupan.
Seringkali memang kita tidak menyadari bahwa perubahan itu harus kita mulai dari diri sendiri. PLN memang salah karena tidak menjaga jumlah pasokan listrik pada pelanggannya, tapi apakah kita sebagai pengguna listrik tidak punya andil dalam menghabiskan pasokan listrik untuk hal-hal yang mubazir? Apalagi tak jarang saya mendengar ada kalimat seperti ini: "yaelah, yang penting kan gw bayar setiap watt yang gw pake!" Saya tidak akan menggurui orang lain, tapi ingin koreksi ke dalam. Apakah saya sudah menghemat listrik di rumah?
Saya harus mengakui dengan jujur bahwa saya BELUM berhasil mendisiplinkan diri untuk menghemat listrik. Terutama listrik yang digunakan oleh laptop + PC di rumah. Masalahnya cuma karena malas menghidupkan kembali :( Jadi tak jarang, laptop + PC hidup secara bersamaan padahal pemiliknya tidur pulas. Bahkan, karena sambungan koneksi utamanya ada pada PC, padahal yang paling sering digunakan adalah laptop, maka sangat sering PC dalam keadaan ON tapi mubazir tidak digunakan. Memalukan, bukan???
Namun, di sisi lain, saya merasa sudah mulai bisa berhemat karena kalau malam sebelum tidur, saya ingat untuk mematikan dispenser. Senang sekali bisa mengurangi 'suara-suara' ketika mematikan dispenser. Perhatikan deh, semua elektronik itu mempunyai suara sendiri lho. Keadaan di rumah jauh lebih ketika kita mematikan sebagian elektronik.
Perihal lain yang sampai saat ini masih mengganggu saya dan belum saya temukan solusi tepatnya adalah penggunaan plastik untuk menampung sampah basah maupun kering. Jika sampah tidak diwadahi di plastik, kasihan sama yang 'ngangkut', jorok dan 'blepetan'. Bahkan, saking kasihannya sama mas-mas yang tugasnya setiap 2hari sekali mengangkut sampah dari bak setiap rumah di komplek ini, saya pernah memarahi seorang pemulung yang kedapatan sedang 'ngoprek2' sampah yang sudah dibungkus plastik nan rapi. Pemulung memang tidak akan menemukan apapun di kantong plastik sampah saya, karena saya selalu memilah-milah sampah kertas (kotak dari kertas rupanya sasaran pemulung juga) dan botol plastik bekas minuman. Walau sesudahnya saya jadi 'takut' akan diisengi oleh pemulung tersebut, karena saya seringkali membiarkan barang-barang tergeletak di halaman belakang, termasuk mesin cuci :D
Kira-kira, apalagi yang bisa kita hemat dalam keseharian ya?
Seringkali memang kita tidak menyadari bahwa perubahan itu harus kita mulai dari diri sendiri. PLN memang salah karena tidak menjaga jumlah pasokan listrik pada pelanggannya, tapi apakah kita sebagai pengguna listrik tidak punya andil dalam menghabiskan pasokan listrik untuk hal-hal yang mubazir? Apalagi tak jarang saya mendengar ada kalimat seperti ini: "yaelah, yang penting kan gw bayar setiap watt yang gw pake!" Saya tidak akan menggurui orang lain, tapi ingin koreksi ke dalam. Apakah saya sudah menghemat listrik di rumah?
Saya harus mengakui dengan jujur bahwa saya BELUM berhasil mendisiplinkan diri untuk menghemat listrik. Terutama listrik yang digunakan oleh laptop + PC di rumah. Masalahnya cuma karena malas menghidupkan kembali :( Jadi tak jarang, laptop + PC hidup secara bersamaan padahal pemiliknya tidur pulas. Bahkan, karena sambungan koneksi utamanya ada pada PC, padahal yang paling sering digunakan adalah laptop, maka sangat sering PC dalam keadaan ON tapi mubazir tidak digunakan. Memalukan, bukan???
Namun, di sisi lain, saya merasa sudah mulai bisa berhemat karena kalau malam sebelum tidur, saya ingat untuk mematikan dispenser. Senang sekali bisa mengurangi 'suara-suara' ketika mematikan dispenser. Perhatikan deh, semua elektronik itu mempunyai suara sendiri lho. Keadaan di rumah jauh lebih ketika kita mematikan sebagian elektronik.
Perihal lain yang sampai saat ini masih mengganggu saya dan belum saya temukan solusi tepatnya adalah penggunaan plastik untuk menampung sampah basah maupun kering. Jika sampah tidak diwadahi di plastik, kasihan sama yang 'ngangkut', jorok dan 'blepetan'. Bahkan, saking kasihannya sama mas-mas yang tugasnya setiap 2hari sekali mengangkut sampah dari bak setiap rumah di komplek ini, saya pernah memarahi seorang pemulung yang kedapatan sedang 'ngoprek2' sampah yang sudah dibungkus plastik nan rapi. Pemulung memang tidak akan menemukan apapun di kantong plastik sampah saya, karena saya selalu memilah-milah sampah kertas (kotak dari kertas rupanya sasaran pemulung juga) dan botol plastik bekas minuman. Walau sesudahnya saya jadi 'takut' akan diisengi oleh pemulung tersebut, karena saya seringkali membiarkan barang-barang tergeletak di halaman belakang, termasuk mesin cuci :D
Kira-kira, apalagi yang bisa kita hemat dalam keseharian ya?
Thursday, December 10, 2009
KBS oh KBS
Tinunit tinunit tinuniiiiiiiitttttt............
Aku yang lagi leyeh-leyeh di ruang tamu, buru-buru beranjak ke kamar sebelah.
"Halo?"
"Ini Bu Linda bilang jadi mo pake tempat, dia mo ada acara besok siang. Untuk 30orang. Gimana ini?"
"Nah??? Kok bisa dadakan? Bilang aja ga bisa, karena kondisinya juga lagi berantakan di situ."
"Tapi dia udah telanjur nyebarin undangan klo acaranya diadain di Kedai."
"Iya, tapi mo gimana lagi, klo saja dia ga dadakan, pastinya kan ga begini. Lagian itu bangku mo ditaro di mana? Belum lagi nanti komputer datang, mo taro di mana?"
"Ya udah, lu ngomong sendiri deh sama orangnya."
"Halo ... "
"Eh pa kabar bu, gimana kok bikin acara dadakan siy?"
"Iya niy, sebenernya siy engga dadakan, tapi sudah disiapin sejak 2minggu lalu, cuma emang blum ngabarin. Ku pikir di sini ga ada perubahan tempat."
"Jiahhh ibu ini, klo pun setting-an kedai tidak diubah, gimana klo sampai saya juga terima acara dari orang lain? Tetep ibu ga bisa bikin di sini juga 'kan?"
"Tolongin deh ... kadung disebar niy undangannya ...."
"Duh, jangan bikin saya ngerasa ga enak dong bu, pengen banget bisa nolongin, tapi keadaannya yang tidak memungkinkan. Mohon maaf banget yaaa... mendingan sekarang ibu cepat2 cari lokasi baru, terus tinggalkan alamatnya sama orang saya di Kedai, jadi klo ada yang datang ke Kedai, nanti dibantu diarahkan ke lokasi baru. Gimana?!"
"Bener2 ga bisa ditolongin yaaa.....?"
"Yaaahhhh .... masak engga mau klo bisa, masalahnya ini engga memungkin bu. Klo barang2 yg mau diungsikan itu bisa disempil2in siy gpp deh, lha itu ... bangku2 panjang, terus komputer + monitor pada mo taro di mana coba. Udah deh, mending ibu ga usah buang waktu, karena gimana juga engga bakal bisa di Kedai kami."
"Ya udahlah klo gitu." Lemes suaranya.
Jadi ceritanya, seorang kenalan, beberapa waktu yang lalu ketemu lagi tanpa sengaja di tempat cucian mobil. Rupanya dia sedang mempromosikan MLM yang jualan bahan kimia untuk mengirit bensin. Aku sudah lupa apa nama produk itu. Pada kesempatan itu aku undang dia untuk mampir ke Kedai, bahkan kalau dia mau ngadain acara kumpul2 boleh di Kedai, tinggal bilang aja mau dihidangin apa. Menunya pun bebas dengan harga sahabat. Dia bilang nanti akan menghubungi kalau jadi.
Setting-an Kedai yang 2lantai memang berkonsep internet cafe, lantai atas untuk warnet sementara lantai bawah untuk tempat kongkow2. Disediakan juga buku-buku yang boleh dibaca tanpa dipungut bayaran. Maksudnya siy mau kasi sarana untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar. Tapi setelah 9bulan berjalan, kok sepi ya yang memanfaatkan sarana ini. Sampai aku memutuskan untuk menjadikan tempat ini sepenuhnya menjadi warnet. Tentu saja tetap ada snack corner untuk pelanggan yang datang.
Kalau sudah begini, jadi serba salah. Dan emang ga maksud mau mencari siapa yang salah, yang terpenting solusinya yang segera perlu dicari. Sembilan KBS dalam penantian eh giliran mau berubah konsep malah mau dipake untuk acara hehehe ... Untunglah, teman tadi memberi kabar kalau acaranya akhirnya diadakan di Rumah Makan Padang tak jauh dari lokasi KBS. Syukur deh, jadi aku juga engga perlu ngerasa ga enak begini. Semoga sukses pertemuannya besok ya bu!
Aku yang lagi leyeh-leyeh di ruang tamu, buru-buru beranjak ke kamar sebelah.
"Halo?"
"Ini Bu Linda bilang jadi mo pake tempat, dia mo ada acara besok siang. Untuk 30orang. Gimana ini?"
"Nah??? Kok bisa dadakan? Bilang aja ga bisa, karena kondisinya juga lagi berantakan di situ."
"Tapi dia udah telanjur nyebarin undangan klo acaranya diadain di Kedai."
"Iya, tapi mo gimana lagi, klo saja dia ga dadakan, pastinya kan ga begini. Lagian itu bangku mo ditaro di mana? Belum lagi nanti komputer datang, mo taro di mana?"
"Ya udah, lu ngomong sendiri deh sama orangnya."
"Halo ... "
"Eh pa kabar bu, gimana kok bikin acara dadakan siy?"
"Iya niy, sebenernya siy engga dadakan, tapi sudah disiapin sejak 2minggu lalu, cuma emang blum ngabarin. Ku pikir di sini ga ada perubahan tempat."
"Jiahhh ibu ini, klo pun setting-an kedai tidak diubah, gimana klo sampai saya juga terima acara dari orang lain? Tetep ibu ga bisa bikin di sini juga 'kan?"
"Tolongin deh ... kadung disebar niy undangannya ...."
"Duh, jangan bikin saya ngerasa ga enak dong bu, pengen banget bisa nolongin, tapi keadaannya yang tidak memungkinkan. Mohon maaf banget yaaa... mendingan sekarang ibu cepat2 cari lokasi baru, terus tinggalkan alamatnya sama orang saya di Kedai, jadi klo ada yang datang ke Kedai, nanti dibantu diarahkan ke lokasi baru. Gimana?!"
"Bener2 ga bisa ditolongin yaaa.....?"
"Yaaahhhh .... masak engga mau klo bisa, masalahnya ini engga memungkin bu. Klo barang2 yg mau diungsikan itu bisa disempil2in siy gpp deh, lha itu ... bangku2 panjang, terus komputer + monitor pada mo taro di mana coba. Udah deh, mending ibu ga usah buang waktu, karena gimana juga engga bakal bisa di Kedai kami."
"Ya udahlah klo gitu." Lemes suaranya.
Jadi ceritanya, seorang kenalan, beberapa waktu yang lalu ketemu lagi tanpa sengaja di tempat cucian mobil. Rupanya dia sedang mempromosikan MLM yang jualan bahan kimia untuk mengirit bensin. Aku sudah lupa apa nama produk itu. Pada kesempatan itu aku undang dia untuk mampir ke Kedai, bahkan kalau dia mau ngadain acara kumpul2 boleh di Kedai, tinggal bilang aja mau dihidangin apa. Menunya pun bebas dengan harga sahabat. Dia bilang nanti akan menghubungi kalau jadi.
Setting-an Kedai yang 2lantai memang berkonsep internet cafe, lantai atas untuk warnet sementara lantai bawah untuk tempat kongkow2. Disediakan juga buku-buku yang boleh dibaca tanpa dipungut bayaran. Maksudnya siy mau kasi sarana untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar. Tapi setelah 9bulan berjalan, kok sepi ya yang memanfaatkan sarana ini. Sampai aku memutuskan untuk menjadikan tempat ini sepenuhnya menjadi warnet. Tentu saja tetap ada snack corner untuk pelanggan yang datang.
Kalau sudah begini, jadi serba salah. Dan emang ga maksud mau mencari siapa yang salah, yang terpenting solusinya yang segera perlu dicari. Sembilan KBS dalam penantian eh giliran mau berubah konsep malah mau dipake untuk acara hehehe ... Untunglah, teman tadi memberi kabar kalau acaranya akhirnya diadakan di Rumah Makan Padang tak jauh dari lokasi KBS. Syukur deh, jadi aku juga engga perlu ngerasa ga enak begini. Semoga sukses pertemuannya besok ya bu!
Saturday, December 5, 2009
Selamat Jalan, Pangeranku
Ku mengenalmu empat tahun yang lalu, tepatnya di bulan Agustus 2005 dan ku jatuh hati pada pandangan pertama. Kali pertama ku bersitatap denganmu tlah meyakinkanku 'tuk memilihmu menjadi pendamping hidupku. Dan sejak itu, kau selalu setia menemaniku, mendengarkan curhatku yang terkadang diseling sedu sedan tangisku, kapan saja tak kenal waktu. Kau tidak pernah mengecewakanku sampai hari ini. Sungguh, aku harus mengakui bahwa tak pernah ku sangka bahwa kesetiaanmu begitu mengesankan, membuatku tak pernah berpikir jika sampai terpisahkan denganmu.
Thursday, December 3, 2009
Tragedi Seragam
Waktu menunjukkan pukul 2 lewat ketika ku terjaga dari tidurku. Teringat emang ada niatan bangun jam segitu, buat bantuin swami 'jaga lilin'. Guess what? Ternyata swami masih anteng di ruang kerja. Hmm ... kok gerah banget ya? Mandi dulu ah biar seger .... Oopss ... kok kayaknya ada rasa-rasa panggilan alam neh, ya udah mari kita tuntaskan dulu. Biasanya aktivitas itu dilakukan sambil membiarkan pikiran mendata pekerjaan yang mesti masuk dalam antrian 'to do list'. Eh? Apa itu yang di ember cucian kotor? Bukannya itu seragam keponakan tersayang? Hari apa ini? Kamis? Panik pun mendera!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)



